Rabu, 12 Juni 2013

Tugas wawancara mata kliah Tauhid




PERAN DAN FUNGSI TAUHID
 DALAM KEHIDUPAN SOSIAL





Disusun Oleh :

                 Nurroqim Indrasumarno

Benny Mu’alim


UIN SUNAN KALIJAGA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDA’IYAH
2012


 


MENGAMATI FUNGSI TAUHID DALAM KEHIDUPAN SOSIAL

Berawal dari tugas kelompok yang bertemakan Fungsi Tauhid Dalam kehidupan Sosial, membuat kami ingin lebih mengetahui keadaan sesungguhnya apa yang terjadi pada masyarakat sosial pada zaman ini, kami penasaran apakah tauhid pada zaman moderen ini masih dijadikan pedoman oleh masyarakat awam?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut kami melakukan pengamatan dengan mengunjungi salah satu angkringan di daerah Sayidan sekitar jam 19.00 WIB. Kami mulai dengan menyusuri gang-gang sempit namun ramai akan kendaraan yang berlalu lalang. Tibalah kita di sebuah angkringan di penghujung perempatan desa. Tanpa ragu kami mendatanginya sembari memesan makan ringan.
Sembari menikmati udara malam yang dingin dan makanan ringan pengganjal perut, kami berusaha bercakap dengan bapak pemilik Angkringan tersebut,  Percakapan demi percakapan mulai terlontarkan dari lisan kami. Berawal dari percakapan ringan seperti alamat rumah, keluarga, dan pekerjaan. Dari percakapan tersebut kami dapat mengetahui umur bapak angkringan sudah berumur sekitar 65 tahun, beliau telah memiliki anak dan cucu. Beliau menekuni profesinya sebagai penjual Angkringan sekitar 30 tahun sejak beliau masih muda, yang mana pekerjaan tersebut adalah warisan dari orang tua beliau. 
Namun, tujuan pertama kami adalah untuk mengetahui agama yang beliau anut. Percakapan pun mulai mengalir hingga membahas masalah masjid daerah sekitar, hewan qurban, shalat Idul Adha hingga pengajian rutin. Dari situlah kami yakin bahwa beliau menganut agama Islam. Pengamatan pun dimulai dengan bahasa yang sederhana dan tidak terkesan mewawancarai, 
Indra   : “Maaf pak, dulu anak bapak disekolahkan di mana?”
Bapak  : “Anak saya yang terakhir saya sekolahkan di MTs.”
Benny  : “ Itu memang sengaja bapak sekolahkan di sana atau bagaimana pak?”
            Bapak  : “ Lha itu, anaknya mau sendiri dek”
            Indra   : “ Emang bedanya sekolah biasa dengan MTs itu apa pak?
            Bapak  : “ ya pelajaran agamanya lebih banyak dek, kalau di SMP kan pelajaran agama hanya sedikit.”
            Indra   : “Bapak senang apa tidak kalau anaknya sekolah di MTs?”
            Bapak  : “ya seneng lah, kan pelajaran agamanya lebih banyak. Saya dulu juga sekolahnya di MTs dek. Dulu saya sekolah di Muhiwa dek.”
            Benny  : “Dulu di sana juga sama pak banyak pelajaran agama seperti sekarang pak? Ada aqidah semacam itu juga pak?”
            Bapak  : “Oh ya sama dek ada seperti itu.”
            Indra   : “Terus kalau pelajaran seperti itu di praktekan di masyarakat tidak pak?”
            Bapak  : “Ya itu kan pelajaran di sekolah jadi ya tidak dek. Kan masih anak kecil belum begitu paham. Jadi hanya sekedar pelajaran saja. Kalau sudah lulus SMA seperti itu baru sadar dan mulai menerapkan pelajaran tadi.”
            Benny  : “Lha terus kalau sudah tua seperti ini apa masih diterapkan pak?”
            Bapak  : “Oh ya masih dek. Itu kan penting untuk bekal nanti di akhirat.”

            Pertanyaan demi pertanyaan terus kami lontarkan hingga kami lebih mengetahui kehidupan dan pemikiran beliau tentang agama Islam. Lama kelamaan kami mulai nyaman dengan pemnbicaraan kami. Dan bapaknya pun juga mulai bertanya kepada kita, dimulai saat kami berdua membincangkan masalah bela diri. Kami membicarakan tentang rencana kita yang ingin melihat seleksi kejuaraan bela diri yang kebetulan akan dilaksanakan pada malam ini tanggal 8 November 2012, Dari sini, beliau mulai bertanya pada kami,

            Bapak  : “Oh kalian suka bela diri ya dek?”
            Benny  : “Iya pak kami senang bela diri apalagi kalau lihat fight seperti itu.”
            Bapak : “Saya itu dulu juga melatih bela diri dek, namanya Telapak Sakti. Tapi sekarang sudah tidak lagi.”
            Indra   : “Lha kenapa kok sekarang tidak lagi pak? Terus itu bela dirinya seperti apa pak?”
            Bapak  : “Ya sudah tua dek. Kalau bela dirinya itu ya pokoknya untuk jaga diri saja dan diajarkan tentang agama juga. Jadi, di situ diajarkan kekuatan dengan do’a-do’a, puasa, dan ajaran agama lainnya.”
            Indra  : “Lah pak gunanya apa bela diri kok memakai ilmu agama juga?”
            Bapak  : “Ya gunanya banyak dek. Untuk menjaga hati agar tidak sombong, bisa untuk menghadapi masalah di kehidupan dengan sabar.”
            Benny  : “Lha terus kalau bapak ada masalah keluarga atau ekonomi, apa yang bapak lakukan. Apa ilmu tadi bisa dipakai pak?”
            Bapak  : “Ya kalau ada masalah ya berdo’a pada Allah dek, karena segalanya itu milik Allah. Kalau bela diri itu kan untuk jaga diri kalau ada ancaman dari luar, kalau ada masalah ya kita kembali ke Allah.”
            Benny  : “ trus menurut bapak aqidah itu penting ya pak untuk kehidupan kita?”
            Bapak  : “ya penting soalnya bisa membantu kita di kehidupan dunia dan akhirat.”

            Karena kami merasa sudah cukup maka kami pamit dengan bapaknya, tak lupa kami ucap salam dan terima kasih. Dalam perjalanan pulang kami menyusuri kembali gang-gang sempit yang masih ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang, dengan perasaan puas telah menemukan jawaban dari rasa penasaran kami tentang fungsi tauhid di kehidupan sosial.

KESIPULAN
            Dari percakapan yang kami lakukan dengan bapak Angkringan, kita dapat memahami bahwa aqidah dapat menolong manusia dari perasaan buruk yang timbul dari dirinya yang disebabkan karena ilmu yang ia miliki seperti sombong, riya’, tama’,dan takabur. Aqidah juga dapat menenangkan hati ketika kita ditimpa musibah, dengan berdo’a hati menjadi tabah lalu menerima apapun yang Allah berikan kepada kita

           
 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar