Selasa, 02 Juli 2013

Makalah tentang TARBIYAH DZATIYAH



TARBIYAH DZATIYAH



MAKALAH
Diajukan guna memenuhi tugas
mata kuliah Akhlak Tasawuf


Disusun oleh :
Kelompok 6
1.      M. Athfal Matswa                              (12480056)
2.      Arafah Maelani                                   (12480059)
3.      Sutan Nur Istna Rachmawati              (12480061)
4.      Mu’ammila Rohmaniyah                     (12480078)
5.      Yulia Agustina                                    (12480085)
6.      Dika Perdana Ardi                              (09480092)

Dosen pembimbing  : Drs. Nur Hidayat, M. Ag


PROGRAM STUDI PGMI B
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2012/2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan baik dan tanpa halangan suatu apapun. Makalah kami yang membahas mengenai “Tarbiyah Dzatiyah” ini kami susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf. Sesuai dengan judulnya makalah ini membahas mengenai pengertian tarbiyah dzatiyah, urgensi tarbiyah dzatiyah, sebab-sebab ketidakpedulian kepada tarbiyah dzatiyah, sarana-sarana tarbiyah dzatiyah, dan hasil dari tarbiyah dzatiyah.
Pembuatan makalah ini terlaksana atas bantuan dari beberapa pihak, sehingga tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada pihak-pihak tersebut :
1.      Bapak Drs. Nur Hidayat, M. Ag selaku dosen pembimbing mata kuliah Akhlak Tasawuf
2.      Orang tua kami yang senantiasa mendukung kami
3.      Teman-teman, dan
4.       Semua pihak yang telah membantu kami menyelesaikan makalah ini.
Akhirnya kami berharap makalah ini bermanfaat bagi pembaca sekalian ataupun bagi penulis sendiri. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaan makalah kami di kemudian hari.






Yogyakarta, 17 November 2012

Penyusun





DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………..….i
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………….ii
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………...iii
BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………….1
A.    Latar Belakang Masalah ……………………………………………………....1
B.     Rumusan Masalah ….…………………………………………………………1
BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………………...2
A.    Pengertian Tarbiyah Dzatiyah ...........................................................................2
B.     Urgensi Tarbiyah Dzatiyah ...............................................................................2
C.     Sebab-sebab Ketidakpedulian kepada Tarbiyah Dzatiyah................................4
D.    Sarana Tarbiyah Dzatiyah.................................................................................5
E.     Hasil Tarbiyah Dzatiyah…………………………………………...................8
BAB III PENUTUP  …………………………………………………………………….9
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………...................10



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6) 
Tarbiyah Dzatiyah adalah sangat penting bagi setiap muslim untuk meningkatkan kualitas keimanan dan keislamannya sehinggga mencapai maqom kesempurnaan. Untuk itu sangatlah perlu bagi setiap muslim untuk memahami urgensi Tarbiyah zatiyah ini dan mengamalkannya.
Dalam penulisan kali ini akan dipaparkan tentang pengertian tarbiyah dzatiyah, urgensi tarbiyah dzatiyah, sebab-sebab, sarana-sarana dan buah tarbiyah dzatiyah.

B.       Pembahasan masalah
1.        Apakah yang dimaksud dengan Tarbiyah Dzatiyah?
2.        Apa sajakah urgensi-urgensi Tarbiyah Dzatiyah?
3.        Sebab-sebab ketidakpedulian terhadap Tarbiyah Dzatiyah?
4.        Sarana-sarana apa sajakah yang digunakan tarbiyah Dzatiyah?
5.        Apa hasil dari Tarbiyah Dzatiyah?






BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tarbiyah Dzatiyah
Tarbiyah Dzatiyah ialah sejumlah sarana tarbiyah yang diberikan orang Muslim atau Muslimah, kepada dirinya, untuk membentuk kepribadian Islami yang sempurna di seluruh aspek, baik berupa ilmiah, iman, akhlak, sosial dan sebagainya, dan naik tinggi ke tingkat kesempurnaan sebagai manusia.[1] Dengan kata lain Tarbiyah Dzatiyah ialah tarbiyah (pembinaan) seseorang terhadap dirinya sendiri. Tarbiyah dzatiyah sudah pernah dilakukan oleh sahabat-sahabat Rasulullah. Bisa dilihat dari sejarah keberhasilan sahabat-sahabat Rasulullah, dimana mereka mampu tampil menjadi figur-figur hebat, dengan ciri khas dan kelebihannya masing-masing. Salah satu kuncinya adalah masing-masing dari mereka mampu mentarbiyah (membina) diri sendiri dengan optimal, meningkatkan kualitas diri menuju tingkatan seideal mungkin, mengadakan perbaikan diri secara konsisten dan kontinyu, serta meningkatkan semua potensi diri mereka sehingga tidak ada satu pun potensi mereka yang terabaikan.

B.  Urgensi Tarbiyah Dzatiyah 
1. Menjaga diri seharusnya didahulukan daripada menjaga orang lain
Tarbiyah seorang muslim terhadap dirinya sendiri adalah sebuah upaya untuk melindungi dirinya dari siksa Allah. Tidak diragukan lagi, menjaga diri sendiri mesti lebih diutamakan daripada menjaga orang lain. Seperti dalam firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 : [2]
“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
Arti menjaga diri dari neraka, seperti dikatakan Ibnu Sa’di rahimahullah, ialah dengan mewajibkan diri mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertaubat dari apa saja yang dimurkai oleh-Nya yang mendatangkan siksa.

2. Jika kita tidak mentarbiyah (membina) diri kita sendiri, maka siapa yang mentarbiyah (membina) diri kita?
Jika kita tidak mentarbiyah diri kita sendiri, maka kita akan kehilangan waktu-waktu ketaatan dan moment-moment kebaikan padahal hari dan umur terus bergulir, sedang ia gagal mengetahui titik lemah dirinya dan ketidakberesannya. Akibatnya, ia merugi pada saat kematian.

3. Hisab kelak bersifat Individual
“Setiap orang dari kalian pasti diajak bicara Tuhannya, tanpa penerjemah antara dirinya dengan-Nya.” (Muttafaq Alaih). 
Hisab pada hari Kiamat oleh Allah SWT kepada hambanya bersifat individual, bukan secara kolektif. Artinya setiap orang kelak dimintai pertanggungjawaban tentang diri dan sepak terjangnya, baik perbuatan baik atau buruk, kendati ia mengklaim orang lain menjadi penyebaba kessesatan dan penyimpangan. Kendati ada klaim seperti mereka wajib dihisab bersama dirinya. Karena itu, barangsiapa mentarbiyah dirinya, insya Allah hisabnya diringankan dan ia selamat dari siksa, dengan rahmat Allah SWT.

4. Tarbiyah Dzatiyah itu lebih mampu menghasilkan perubahan
Kita pasti punya aib, kekurangan, atau melakukan kelalaian dan maksiat.  untuk memperbaiki seluruh sisi negatif yang ada didalam diri kita maka tarbiyah dzatiyah akan sangat efektif karena kita sendiri lah yang tahu rahasia-rahasia dalam diri kita yang perlu diperbaiki. 


5. Tarbiyah adalah sarana tsabat (tegar) dan istiqamah
Tarbiyah dzatiyah merupakan garis pertahanan terdepan dalam melawan beragam fitnah dan bujuk rayu, yang menyerang orang Muslim dewasa ini. Godaan untuk menyimpang, gugur di jalan dakwah,  loyo, malas, merasa takut akan  masa depan, dan putus asa dengan realitas sekarang. Di aspek ini, perumpamaan Tarbiyah Dzatiyah ialah seperti pohon, yang jika akar-akarnya menancap kuat di bumi, maka pohon tersebut tetap kokoh, meskipun terkena angin dan badai.

6. Sarana Dakwah yang Paling Kuat
Cara yang paling efektif untuk mendakwahi orang lain dan mendapatkan respon mereka ialah dengan menjadi qudwah (panutan) yang baik dan teladan istimewa, di aspek iman, ilmu, dan akhlaknya. Qudwah tinggi dan pengaruh kuat tersebut tidak dapat dibentuk oleh sekian khutbah dan ceramah saja. Namun, dibentuk oleh tarbiyah dzatiyah yang benar.

7. Cara yang Benar dalam memperbaiki realitas yang ada
Realitas kondisi umat Islam di berbagai aspek kehidupan sekarang cukup memprihatinkan. Tarbiyah dzatiyah merupakan langkah efektif untuk melakukan upaya perbaikan. Sebab, jika setiap individu baik, baik pula keluarga, lalu masyarakat menjadi baik. Begitulah, akhirnya pada akhirnya realitas umat menjadi baik secara total, sedikit demi sedikit.

8. Karena keistimewaan tarbiyah dzatiyah
Tarbiyah dzatiyah memiliki urgensi lain seperti mudah diaplikasikan, sarana-sarananya banyak, dan ada terus pada orang Muslim di setiap waktu, kondisi, dan tempat.

C.  Sebab-Sebab Ketidakpedulian Kepada Tarbiyah Dzatiyah
1. Minimnya Ilmu
2. Ketidakjelasan Sasaran dan Tujuan
3. Lengket dengan Dunia
4. Pemahaman yang Salah tentang Tarbiyah
5. Minimnya Basis Tarbiyah
6. Langkahnya Murabbi (Pembina)
7. Perasaan akan Panjangnya Angan-angan

D. Sarana-Sarana Tarbiyah Dzatiyah 
1.  Muhasabah
Muhasabah merupakan penyucian atau pembersihan diri sebagai alat untuk mengintrospeksi dirinya sendiri. Seorang muslim mulai mentarbiyah dirinya sendiri dengan cara pertama-tama melakukan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya sendiri atas kebaikan dan keburukan yang telah ia kerjakan, meneliti kebaikan dan keburukan yang ia miliki, agar ia dapat segera menyadari dan melakukan perbaikan terhadap dirinya sendiri.
Hal yang pertama kali perlu di muhasabahi seseorang pada dirinya ialah kesehatan akidahnya, kebersihan tauhidnya dan kebersihannya dari syirik kecil dan tersembunyi, yang keduanya sering kali disepelekan serta keyakinan-keyakinan dan perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan atau melemahkan tauhid.[3] Lalu ia memuhasabahi dirinya atas pelaksanaan kewajiban-kewajiban, shalat lima waktu berjamaah, bakti kepada kedua orang tua (birrul walidain), menyambung hubungan kekerabatan, amar ma’ruf nahi munkar dan juga memuhasabahi dirinya tentang sejauh mana pelaksanaan ibadah-ibadah sunnah dan ketentuan-ketentuan lainnya oleh dirinya.

2. Taubat Dari Segala Dosa
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah berkata, “Segera bertaubat dari segala dosa wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda. Jika taubat ditunda, pelakunya bermaksiat kepada Allah dengan penundaan taubat. Jika ia bertaubat, ia masih punya kewajiban taubat lainnya, yaitu taubat dari penundaan taubatnya. Hal ini jarang sekali terbesit di jiwa orang yang bertaubat ! Dan ia tidak bisa selamat dari hal ini, kecuali dengan taubat umum dari disa-dosa yang ia ketahui atau tidak ia ketahui.”    Agar sarana ini memberikan pengaruh tarbiyah kepada jiwa, ada hal-hal yang perlu diingat yaitu :
a. Hakikat Dosa, ialah tidak mengerjakan kewajiban-kewajiban syar’i, atau       melalaikannya dalam bentuk tidak mengerjakannya dengan semestinya.
b. Syarat-syarat Taubat, berhenti dari dosa pada masa mendatang, menyesali dosa-dosa silamnya, dan bertekad tidak mengerjakannya lagi pada masa mendatang.
c. Semua Dosa itu Kesalahan
d. Hukuman di Dunia
e. Di antara Trik jiwa kita

3. Mencari Ilmu Dan Memperluas Wawasan
Mencari ilmu dan memperluas cakrawala ilmu pengetahuan adalah aspek penting dan sarana urgen Tarbiyah Dzatiyah yang ideal dan mengarahkannya dengan pengarahan yang benar. Ilmu yang menunjang Tarbiyan Dzatiyah adalah ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasullah, dan pemahaman salafush shalih, yang menghasilkan ketakwaan takut kepada-Nya, menunjukan kepada ketaatan kepada-Nya, mengetahui batasan-batasan dan hukum-hukum-Nya, mengatarkan ke surga, dan menjauhkan pelakunya dari neraka.

4. Mengerjakan Amalan-Amalan Iman
a.    Mengerjakan ibadah-ibadah wajib seoptimal mungkin
b.    Meningkatkan porsi ibadah-ibadah sunnah
c.    Peduli dengan ibadah dzikir

5.   Memperhatikan Aspek Akhlak (Moral), diantaranya :
a.    Sabar
b.    Membersihkan hati dari Akhlak Tercela
c.    Meningkatkan Kualitas Akhlak
d.   Bergaul dengan Orang-orang yang Berakhlak Mulia
e.    Memperhatikan Etika-etika umum

6. Terlibat Dalam Aktivitas Dakwah
Di  dalam surat Al-Ashr bahwa orang-orang yang tidak rugi di akhirat ialah orang-orang yang mempunyai empat sifat yaitu beriman kepada Allah, beramal shalih, saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat untuk sabar. Sifat ketiga dan keempat tidak mungkin dapat direalisir kecuali dengan menunaikan kewajiban berdakwah ke jalan Allah, amar ma’ruf nahi munkar, dalam suasana cinta dan ukhuwah karena Allah. Agar orang Muslim berinteraksi dengan Tarbiyah dzatiyah dalam aspek dakwah dan bersemangat melaksanakannya ada beberapa arahan di antaranya :
a.    Merasakan Kewajiban Dakwah
b.    Menggunakan Setiap Kesempatan untuk berdakwah
c.    Terus-menerus dan tidak Berhenti di Tengah Jalan
d.   Pintu-pintu Dakwah itu banyak
e.    Kerjasama dengan pihak lain

7. Mujahadah (Jihad)
Di antara syarat dan kondisi yang paling penting ialah jihad melawan jiwa hingga melaksanakan kewajiban, meninggalkan maksiat, membiasakan mengerjakan sunnah-sunnah dan ketaatan-ketaatan, lengket dengan Allah dan akhirat. Dalam masalah ini, ada beberapa hal di antaranya :
a. Sabar adalah bekal Mujahadah
b. Sumber Keinginan
c. Bertahap dalam Melakukan Mujahadah
d. Jadilah Orang yang Tidak Lalai (selalu dalam keadaan terjaga)
e. Siapa yang Mengambil Manfaat dari Mujahadah ?
f. Berdoa dengan Jujur kepada Allah, agar membuahkan hasil yang diharapkan maka tidak lupa akan kebutuhan kita kepada doa, waktu-waktu dan tempat-tempat terkabulnya doa, syarat-syarat doa, jangan meminta doa terkabul dengan segera dan bermanfaatlah untuk kita dan orang lain.

E. Hasil Tarbiyah Dzatiyah 
1. Mendapatkan Keridhaan Allah dan Surga-Nya
Jika seoarang Muslim melakukan Tarbiyah Dzatiyah dengan sempurna, ia akan mendapatkan keridhaan Allah, lalu memperoleh surga-Nya yang merupakan dambaan seluruh orang Muslim di akhirat.[4]
2. Kebahagian dan Ketentraman
Sesungguhnya kebahagiaan dan ketentraman terletak di kembali kepada Allah dan mentarbiyah dri untuk komitmen dengan seluruh perintah dan menjahui semua larangan-Nya.
3. Dicintai dan Diterima Allah
Barangsiapa memperbaiki dan mentarbiyah dirinya untuk beriman, bertakwa dan beramal shalih, ia mendapatkan cinta Allah.
4. Sukses
5. Terjaga dari keburukan dan hal-hal yang tidak mengenakan
6. Keberkahan di Waktu dan Harta
7. Sabar atas Penderitaan dan Semua Kondisi
8. Jiwa Merasa Aman






BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
            Seseorang dalam mencapai kesempurnaan perlu adanya sarana yang disebut dengan tarbiyah dzatiyah. Dengan tarbiyah dzatiyah, seseorang akan mampu membentuk kepribadian islami yang sempurna dalam segala aspek, baik berupa lahiriyah, fikriyah, dan jasadiyah. Tarbiyah dzatiyah ini juga bisa dikatakan pembinaan seseorang terhadap dirinya sendiri. Sarana-sarana yang digunakan dalam tarbiyah dzatiyah ini ada muhasabah, taubat dari segala dosa,mencari ilmu dan memperluas wawasan, mengerjakan amalan-amalan iman, memperhatikan aspek akhlak dan moral, terlibat dalam aktivitas dakwah, dan mujahadah. Hasil yang dapat kita peroleh setelah melakuka tarbiyah dzatiyah yaitu, keridhaan Allah Swt dan surga-Nya, kebahagiaan dan ketentraman, dicintai Allah, terjaga dari keburukan, jiwa merasa aman, terjaga dari keburukan dan hal-hal yang tidak mengenakan, keberkahan di waktu dan harta, sabar atas penderitaan dan semua kondisi.











DAFTAR PUSTAKA


http://edukasi.kompasiana.com/2012/03/08/hakikat-tarbiyah-dzatiyah
http://www.scribd.com/doc/9802254/Tarbiyah-Dzatiyah
http://www.bersamadakwah.com/2010/06/urgensi-tarbiyah-dzatiyah.html


[1]  Alwan Khoiri dkk, Akhlak Tasawuf,  Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, yogyakarta: 2005. Hlm. 148

[2] Al Qur’an dan terjemahnya.,hal228.QS At-Tahrim ayat 8
[3] Abdulloh bin Abdul Aziz Al-Aidan,Tarbiyah Dzatiyah,Jakarta:An-Nadwah,2002,hal 29.
[4]   Alwan Khoiri dkk, Akhlak Tasawuf,  Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, yogyakarta: 2005. Hlm. 153






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar